Rabu Kelabu: Tragedi Italia dan Luka Tiada Akhir Roberto Baggio di Piala Dunia 1994

14 Oktober 2020, 10:00 WIB
Penulis: Dini Wulandari
Editor: Dini Wulandari
Pemain Italia, Roberto Baggio terpaku setelah gagal menngeksekusi penalti ke gawang Brasil di final Piala Dunia 1994. /(Pinterest/Twitter)

  • Italia menelan kekalahan menyakitkan di final Piala Dunia 1994.
  • Gli Azurri disingkirkan Brasil di adu penalti setelah Roberto gagal menjadi eksekutor terakhir.
  • Hingga saat ini, kegagalan tersebut masih menghantui Baggio.

SKOR.id - Tanggal 17 Juli 1994 mungkin menjadi hari yang sulit dilupakan publik Italia, terutama pemain legendaris mereka, Roberto Baggio.

Hari itu, Italia merasakan salah satu tragedi yang hingga saat ini masih terasa menyakitkan. Mereka kehilangan gelar Piala Dunia setelah kalah adu penalti dari Brasil.

Dan Baggio menjadi aktor kegagalan Italia setelah tampil luar biasa di sepanjang turnamen akbar tersebut. Dia secara mengejutkan gagal melakukan eksekusi penalti yang merupakan salah satu kemampuan terbaiknya.

Hingga sekarang, kegagalan tersebut bahkan diakui sang pemain yang terkenal dengan rambut kuncir kuda itu masih terus menghantui hidupnya.

"Saya tidak pernah melepaskan penalti di atas mistar dalam hidup saya, hanya sekali itu. Berkali-kali sebelum tidur, momen itu masih muncul di pikiran saya," kata Baggio dalam wawancaranya pada 2019.

Baggio memang dalam puncak kariernya saat itu. Dia datang sebagai pemenang Ballon d'Or dan Pemain Terbaik FIFA di tahun sebelumnya.

Saat ditunjuk menjadi algojo penalti terakhir Italia, Baggio melakukan strategi sama seperti saat melawan Nigeria, kala ia mencetak gol penentu kemenangan dari titik putih.

Baggio berlari menjauh ke belakang, sekitar 16 meter di luar garis, memperlambat langkahnya saat menembak lalu melepaskan tembakan ke kanan gawang, sisi favoritnya.

Sepanjang kariernya, Baggio tidak pernah melepaskan bola tinggi saat adu penalti. Mereka selalu ditendang rendah, terkendali, dan terukur. Namun, kali ini bolanya terlalu tinggi.

Saat melayang di atas mistar gawang kiper Brasil, Claudio Taffarel, Roberto Baggio menatap lurus ke arah sasaran yang luput. Dia meletakkan tangan di pinggul dan menundukkan kepala. Tidak percaya dengan apa yang terjadi.

Selama bertahun-tahun setelahnya, kegagalan Baggio mengeksekusi penalti masih menjadi pembahasan publik Italia. Mereka masih tidak percaya dengan yang dialami sang pemain.

Brasil vs Italia di final Piala Dunia 1994.
Brasil vs Italia di final Piala Dunia 1994. (Espn/Twitter)

Sepak Bola Italia di Puncak

Italia datang ke PD 1994 di Amerika Serikat dengan kepercayaan diri tinggi. Saat itu, sepak bola mereka sedang berada di puncaknya. Tiga pemain termahal di dunia - Gianluigi Lentini, Jean-Pierre Papin dan Gianluca Vialli - semuanya bermain di Serie A.

Pada bulan Mei tahun itu, Milan asuhan Fabio Capello memenangkan Scudetto ketiga berturut-turut. Pada bulan yang sama, di Stadion Olimpiade di Athena, Milan menghancurkan Barcelona asuhan Johan Cruyff 4-0 di final Liga Champions.

Tulang punggung tim Milan itu juga menjadi tulang punggung timnas Italia. Franco Baresi, Paolo Maldini, Roberto Donadoni, Demetrio Albertini, dan Daniele Massaro semuanya ikut ke Piala Dunia 1994.

Italia juga membawa Beppe Signori, bomber tajam Lazio, top score dua musim beruntun Liga Italia. Pun ada Gianfranco Zola yang tampil impresif di Napoli.

Namun, keduanya harus puas menjadi pilihan kedua Sacchi karena sang pelatih sudah menunjuk Baggio sebagai penyerang utamanya.

Kendati dihuni para pemain terbaik, Gli Azzurri asuhan Arrigo Sacchi mengawali turnamen dengan lambat. Mereka kalah 0-1 di pertandingan pertama saat melawan Republik Irlandia.

Italia lalu kembali ke jalur kemenangan setelah mengalahkan Norwegia 1-0 dan kemudian bermain imbang melawan Meksiko.

Keempat tim menyelesaikan babak penyisihan grup dengan empat poin, tetapi Meksiko, Irlandia, dan Italia yang berada di urutan ketiga melaju ke babak berikutnya karena statistik gol yang lebih baik.

Di babak sistem gugur itulah Italia menemukan alurnya, sebagian besar berkat penampilan Baggio.

Di babak 16 besar pertandingan melawan Nigeria, pemain berusia 27 tahun itu mencetak gol penyeimbang di akhir pertandingan. Dia kemudian juga mencetak gol kemenangan dari titik penalti di babak tambahan.

Baggio terus tampil menawan di perempat final, mencetak gol kemenangan di menit ke-88 saat Italia mengalahkan Spanyol 2-1 untuk melaju ke semifinal.

Di semifinal itulah Baggio menunjukkan mengapa dia menjadi salah satu pemain terbaik saat itu. Bermain melawan Bulgaria yang diperkuat Hristo Stoichkov, Baggio mencetak dua gol untuk mengalahkan mereka.

Gol pertama Baggio bahkan sangat berkelas, memanfaatkan lemparan ke dalam, lolos dari jebakan offside dan melepaskan tembakan melengkung yang indah.

Pada akhirnya, penampilan Baggio di fase-fase krusial tersebut yang dianggap banyak kalangan membawa Italia lolos ke final Piala Dunia 1994.

Roberto Baggio gagal mengeksekusi penalti di final Piala Dunia 1994.
Roberto Baggio gagal mengeksekusi penalti di final Piala Dunia 1994. (Football90/Twitter)

Mimpi Buruk Baggio Dimulai

Namun, 20 menit jelang laga melawan Bulgaria berakhir, Baggio dipaksa keluar karena cedera. Hamstringnya terlihat bermasalah.

Baggio sangat ingin berada di final tapi ia ragu bisa pulih tepat waktu. Dia hanya punya waktu empat hari untuk memulihkan kondisinya.

Pada hari final menghadapi Brasil, ratusan umat Buddha dikabarkan berkumpul di kuil Bangladesh dan berdoa agar Baggio sehat.

Baggio memang telah membayar renovasi kuil setelah beberapa biksu lokal pergi ke Italia untuk menemuinya.

Doa para biksu itu ternyata terjawab. Baggio akhirnya tetap bermain di final tetapi dengan bandage besar di pahanya.

Di laga pamungkas yang berlangsung di Rose Bowl di Pasadena, California, Italia menantang tim fenomenal, Brasil.

Brasil kala itu diperkuat pemain top seperti Romario, Bebeto, dan Dunga. Pertandingan berakhir tanpa gol setelah perpanjangan waktu, meski kedua tim menciptakan beberapa peluang.

Laga pun harus ditentukan lewat tos-tosan. Italia tertinggal 3-2 setelah Franco Baresi dan Daniele Massaro gagal menceploskan bola ke gawang Taffarel.

Namun, situasi itulah yang membuat Baggio tertekan sebagai penendang terakhir penalti. Dia kehilangan ketenangannya dan melesakkan bola tinggi di atas mistar gawang.

Saat para pemain dan fans Brasil bersuka cita merayakan kemenangan mereka, Baggio terpaku di tempatnya, menundukkan kepala dengan tidak percaya, ia meninggalkan lapangan sambil menangis.

Baggio hancur. Setelah pertandingan, saat rekan satu timnya pergi makan, dia mengunci diri di kamarnya.

Karier Baggio Terpuruk

Sejak saat itu, antara Juli 1994 dan Juni 1998, Roberto Baggio hanya bermain empat kali untuk Gli Azzurri.

Sacchi tidak pernah memilihnya untuk Euro 1996 dan Italia gagal. Karier klub Baggio juga seolah terhenti. Dia menghabiskan satu musim lagi dengan Juventus sebelum Marcelo Lippi menjualnya ke Milan.

Roberto Baggio mengalami masa sulit di San Siro dan ketika Sacchi tiba di sana sebagai manajer, dia benar-benar membeku.

Di usia 30 tahun, Baggio memutuskan memperkuat klub medioker Bologna dan Brescia dan ternyata tampil luar biasa. Tapi dia tidak pernah berhasil dengan tim-tim besar.

Baggio pensiun pada tahun 2004, dalam usia 37, dan tidak melakukan banyak hal sejak itu.

Para pemain Italia yang kecewa setelah gagal membawa pulang gelar Piala Dunia 1994.
Para pemain Italia yang kecewa setelah gagal membawa pulang gelar Piala Dunia 1994. (Football90/Twitter)

Lonceng Kematian Sepak Bola Italia

Sementara, kegagalan di Piala Dunia 1994 seolah menjadi lonceng kematian untuk periode kejayaan sepak bola Italia.

Delapan tahun berikutnya negara itu hanya akan memenangkan satu gelar Liga Champions.

Sepanjang tahun sembilan puluhan, liga top Eropa lainnya mengeluarkan banyak uang dan memecahkan rekor transfer dengan sangat cepat.

Spanyol menjadi tujuan para pemain terbaik dunia. Inggris mengembangkan liga yang bisa dibilang paling menarik di benua itu.

Liga Jerman pun kembali kompetitif, tapi Italia justru tertinggal hingga akhirnya kini mulai menggeliat menyusul kedatangan Cristiano Ronaldo ke Juventus.

Ikuti juga InstagramFacebook, dan Twitter dari Skor Indonesia.

Berita Timnas Italia Lainnya:

3 Catatan Laga Italia vs Moldova: Pembuktian Roberto Mancini dan Pemain Sassuolo

Pelatih Timnas Italia: Sepak Bola Sama Pentingnya dengan Sekolah

  • Sumber: Football Italia, The 42, firstpost.com
  • Tag

    Video

    Komentar

    Berita Terkait

    Dunia

    Sabtu, 10 Oktober 2020

    Kualifikasi Piala Dunia 2022: Brazil 5-0 Bolivia, Firmino Borong 2 Gol

    Langkah awal Timnas Brasil di Kualifikasi Piala Dunia 2022 berlangsung penuh perayaan.

    Dunia

    Minggu, 11 Oktober 2020

    Kevin De Bruyne: Timnas Inggris Bisa Jadi Juara Piala Dunia dan Euro

    Komposisi skuad Timnas Inggris merupakan salah satu yang terbaik saat ini, bahkan diakui oleh pemain sekelas Kevin de Bruyne.

    Dunia

    Rabu, 14 Oktober 2020

    Hasil Kualifikasi Piala Dunia 2022: Gol Alexis Sanchez-Arturo Vidal Gagal Bawa Cile Menang

    Drama injury time membuat laga Cile vs Kolombia berakhir dengan hasil seri 2-2.

    Terbaru

    Dunia

    Sabtu, 31 Oktober 2020

    Legenda Argentina Tak Ragukan Dedikasi Lionel Messi di Timnas

    Pablo Aimar menegaskan bahwa dedikasi Lionel Messi untuk timnas Argentina tidak perlu dipertanyakan.

    Dunia

    Jumat, 30 Oktober 2020

    2 Negara ASEAN Tanpa Sepak Bola pada Masa Pandemi, Salah Satunya Indonesia

    Indonesia menjadi satu dari dua negara Asia Tenggara yang tak menggelar pertandingan sepak bola pada masa pandemi Covid-19.

    Dunia

    Jumat, 30 Oktober 2020

    Pelatih Timnas Italia Prihatin dengan Karier Mario Balotelli

    Roberto Mancini mengaku sedih dengan nasib Mario Balotelli yang hingga sekarang tidak memiliki klub.

    Dunia

    Kamis, 29 Oktober 2020

    Gaji Seluruh Pesepak Bola Eropa Terancam Dipotong

    Gaji seluruh pemain sepak bola di Eropa berpeluang dipangkas untuk menyelamatkan kompetisi.

    Dunia

    Senin, 26 Oktober 2020

    Paul Pogba Bantah Tinggalkan Timnas Prancis

    Paul Pogba membantah akan tinggalkan timnas Prancis gegara komentar kontroversial Presiden Emmanuel Macron.

    Dunia

    Jumat, 23 Oktober 2020

    Wonderkid Malaysia Berpeluang Debut di Liga Belgia, Lawan Tim Asuhan Vincent Kompany

    Penyerang timnas U-19 Malaysia berpotensi tampil saat timnya menghadapi skuad asuhan Vincent Kompany di Liga Belgia.

    Dunia

    Senin, 19 Oktober 2020

    Dua Pemain Klub Liga Jepang Ini Dipecat Gegara Langgar Lalu Lintas

    Klub Liga Jepang, Albirex Niigata, memutuskan kontrak dua pemainnya, yakni Fabio Roberto dan Pedro Manzi.

    Dunia

    Jumat, 16 Oktober 2020

    Best XI Matchday ke-4 UEFA Nations League A: Portugal Mendominasi

    Skor.id menyusun starting eleven pemain terbaik UEFA Nations League A matchday keempat.

    Dunia

    Jumat, 16 Oktober 2020

    Mantan Striker Manchester United Pasang Badan Buat David de Gea

    Dimitar Berbatov memberi pembelaan kepada David de Gea yang mendapat kritikan usai Spanyol kalah dari Ukraina.

    Dunia

    Jumat, 16 Oktober 2020

    Timnas Inggris dan 3 Catatan Masalah Kedisiplinan Sepanjang Jeda Internasional

    Masalah kedisiplnan menjadi salah satu poin yang dikritik di dalam skuad Timnas Inggris pada jeda internasional awal musim 2020-2021.

    Terpopuler

    Keyword Populer

    Sepak Pojok

    Sepak Pojok

    X