Kisah Alphonso Davies: dari Kamp Pengungsi Ghana sampai Kulkas Edmonton di Kanada

23 Agustus 2020, 18:00 WIB
Penulis: Thoriq Az Zuhri
Editor: Thoriq Az Zuhri
Wonderkid asal Kanada yang bermain di Bayern Munchen, Alphonso Davies.
Wonderkid asal Kanada yang bermain di Bayern Munchen, Alphonso Davies. /(Grafis: Hendy Andika S/Skor.id)

SKOR.id - Ada banyak rintangan dalam perjalanan karier Alphonso Davies sebelum di Bayern Munchen.

"Mereka yang punya mental terkuat yang akan bisa mewujudkan mimpinya"

Kisah Alphonso Davies tak dimulai saat ia jadi pemain termuda kedua sepanjang sejarah yang bermain di Major League Soccer (MLS) kala berusia 15 tahun.

Kisahnya juga tak dimulai saat ia jadi pemain termahal MLS saat dibeli Bayern Munchen kala berumur 17 tahun.

Cerita tentang siapa Aplhonso Davies dimulai jauh sebelumnya di tempat yang jauh dari Jerman dan juga rumahnya di Kanada.

Kisah Alphonso Davies dimulai dari kamp pengungsian warga Liberia di Ghana, dua negara yang berada di benua Afrika.

 

Kamp Pengungsian dan Kulkas

Orang tua Davies berasal dari Monrovia, Ibu Kota Liberia, dan harus mengungsi dari negara tersebut saat terjadi perang saudara.

Ghana jadi tujuan, keduanya kemudian tinggal di kamp pengungsian di daerah Buduburam, 44km sebelah barat Ibu Kota Ghana, Accra.

Di kamp pengungsian ini pula kemudian Davies lahir dan tumbuh menghabiskan lima tahun awal masa hidupnya.

Saat ia berusia lima tahun, keluarga Davies pindah menuju Windsor, Kanada, untuk mencari mimpi kehidupan yang lebih baik.

Kisah sepak bola Davies belum mulai di sini, sebelum setahun berselang keluarga kecil ini hijrah ke Edmonton, Ibu Kota Provinsi Alberta di Kanada.

Edmonton sangat berbeda dengan Ghana. Di sini, Davies pertama kali melihat salju dan mengerti bagaimana perbedaan dingin di sana dengan panasnya benua Afrika.

"Tak hanya dingin, ini seperti hidup di dalam kulkas. Sampai sekarang saya tak suka musim dingin, meski saya sudah lama tinggal di Kanada," kata Davies mengenang.

Tak hanya cuaca, Davies juga harus beradaptasi dengan banyak hal lain di tempat tinggal barunya tersebut.

"Rumah-rumah, sekolah, bagaimana cara berteman, saya tak mengenal siapapun kecuali keluarga dan saat itu saya masih pemalu," ujar Davies.

 

Satu cara Davies untuk mendapatkan teman? Yap, dengan olahraga. Tentu saja bukan olahraga sepak bola.

Anda tak bisa bermain sepak bola di Edmonton, Kanada. Salju mulai turun bulan September hingga tahun berganti, juga memang olahraga ini tak populer di sana.

Kanada sangat identik dengan olahraga hoki es, tak terkecuali juga di Edmonton. Olahraga ini pula yang coba dimainkan Davies, selain juga atletik, basket, dan bola voli.

Bukan berasal dari sana, tak mengherankan apabila Davies sangat buruk bermain hoki. Ia bahkan mengaku tak bisa mengikat sendiri tali sepatu hokinya dan tak bisa sama sekali berdiri di atas es untuk bermain.

Seperti kebanyakan remaja asal Afrika, Davies kecil lebih tertarik dengan sepak bola, hal yang ia dapatkan dari sang ayah.

Sang ayah bermain untuk tim amatir di Edmonton, selain juga selalu menonton pertandingan Chelsea di TV, membuat Davies juga jadi menyenangi tim asal London tersebut.

"Saya tumbuh besar menonton pemain seperti Didier Drogba dan Michael Essien. Saat akan tidur, saya bermimpi untuk menjadi pemain bintang besar di Eropa dan mencetak gol, selebrasi bersama puluhan ribu fan yang berteriak," kata Davies.

Kini impian tersebut sepertinya mulai jadi kenyataan, perjalanan panjang yang juga melibatkan banyak orang untuk membantu Davies bisa sukses.

Wingback Bayern Munchen, Alphonso Davies memperlihatkan kecepatan larinya di laga Der Klassiker melawan Borussia Dortmund, Selasa (26/05/2020).
Wingback Bayern Munchen, Alphonso Davies memperlihatkan kecepatan larinya di laga Der Klassiker melawan Borussia Dortmund, Selasa (26/05/2020). Bayern Munchen

2 Orang Penting

Dalam karier sepak bola Alphonso Davies, mungkin ada dua orang yang paling berpengaruh: Nick Househ dan Pa-Modou Kah.

Tantangan pertama untuk Davies kecil tentu adalah mencari tempat bermain sepak bola di Edmonton, Kanada.

Saat berusia sembilan atau sepuluh tahun, teman Davies mengajaknya untuk melakukan try out di salah satu klub muda di sana, Edmonton International.

Davies kecil yang masih pemalu sempat kesulitan sebelum kemudian lolos try out dan menjadi pemain di sana.

Masalahnya, Davies tak memiliki banyak waktu untuk berlatih, ia harus menjadi babysitter untuk kedua adiknya.

Ayahnya bekerja di pabrik sedangkan ibunya bekerja sebagai tukang bersih-bersih, mereka tak bisa menyewa pengasuh bayi dan kadang harus bekerja semalaman sampai pagi.

Pada saat rekan-rekan Davies berlatih, ia justru harus mengganti popok dan menyanyikan lagu nina-bobo untuk kedua adiknya.

Keberuntungan Davies mulai berubah saat ia memutuskan ikut salah satu temannya pindah ke klub Edmonton Strikers, klub terburuk di liga remaja di sana saat itu.

Ayah teman Davies ini adalah pelatih di sana dan bernama Nick Househ, orang yang kemudian kini jadi agen pemain dari Davies.

Househ menganggap Davies seperti anaknya sendiri, menjemput dan mengantar ke latihan, memberikan makan, dan jadi bagian penting dalam karier Davies kecil.

Saat ini pula Davies mulai berlatih untuk St Nicolas Soccer Academy yang punya lapangan indoor, hal yang membuat Davies bisa berlatih sepak bola sepanjang tahun.

Kemampuan luar biasa yang ia tunjukkan membuatnya kemudian bergabung dengan tim MLS, Vancouver Whitecaps, saat masih berusia 14 tahun setelah tiga kali menjalani trial di sana.

Semuanya tak mudah di awal bagi Davies. Ia memang cepat berkembang dengan bermain di tim U-16, lalu U-18, sebelum kemudian bermain untuk tim cadangan.

Akan tetapi, saat itu ia menemui tantangan berat: jauh meninggalkan keluarga, merupakan pria yang pemalu, dan seperti tak bisa menemukan permainan terbaik untuk bisa bermain bersama pria-pria dewasa lainnya.

 

"Pekan-pekan awal saya tak bisa melakukan segalanya dengan benar. Saya tak cukup kuat, tak berpikir cukup cepat, umpan selalu salah, saya mulai khawatir," kata Davies.

Davies mulai ragu, apakah pria dari Edmonton yang terkenal dengan hoki, bisa bersaing dengan pemain-pemain dari Brasil atau Eropa.

Kemudian datanglah pria yang juga akan mengubah pemikiran Davies: Pa-Modou Kah.

Kah adalah pemain asal Gambia yang sempat bermain di Swedia, Belanda, Qatar, Arab Saudi, serta membela timnas Norwegia.

"Dia terus berkata kepada saya, 'Teruslah berjuang, kita semua kadang bermain buruk. Mereka yang punya mental terkuat yang akan bisa mewujudkan mimpinya'," ujar Davies.

Kata-kata ini terus terngiang di kepala Davies, ia terapkan dalam kehidupan sehari-hari serta saat latihan, hingga kemudian ia dipanggil oleh pelatih tim utama.

Saat berlatih bersama tim utama, ia sempat gugup meski kemudian semua sirna saat ia bisa melewati kapten tim saat adu tanding latihan.

Setelah itu, ia punya kepercayaan diri untuk tampil di tim utama, tanda tangan kontrak profesional saat berusia 15 tahun, lalu menjalani debut di tim utama.

Musim berikutnya, Davies sudah jadi pemain inti Whitecaps sebelum kemudian ada tantangan lain yang muncul dalam karier Davies.

Raksasa Liga Jerman, Bayern Munchen, resmi membelinya sebagai pemain termahal MLS saat itu, meski di kemudian hari rekornya dipecahkan oleh Miguel Almiron.

Pemain sayap Bayern Munchen, Alphonso Davies, merayakan golnya ke gawang Eintracht Frankfurt, Sabtu 23 Mei 2020.
Pemain sayap Bayern Munchen, Alphonso Davies, merayakan golnya ke gawang Eintracht Frankfurt, Sabtu 23 Mei 2020.

"Saat saya hengkang pada 2018, saya sudah sangat berbeda bukan lagi pria pemalu yang datang ke Whitecaps empat tahun sebelumnya," kata Davies.

"Saya ingin memperlihatkan bahwa saya bisa bermain di level ini. Karena perjalanan saya panjang, saya ingin bermain dengan senyum di bibir, saya selalu mengingatkan diri saya tentang itu."

Kini, Davies berusia 19 tahun dan terus mengukir rekor serta gelar juara bersama Bayern Munchen.

Mengaku ingin menjadi pelatih setelah pensiun kelak, sepertinya masih banyak waktu untuk Davies terus melebarkan sayapnya sebagai pemain terlebih dahulu.

Meski begitu, sepertinya Davies akan terus terbang tinggi, entah sebagai pemain dan mungkin kelak sebagai pelatih, karena ia sudah memegang kuncinya:

"Mereka yang punya mental terkuat yang akan bisa mewujudkan mimpinya".

 

Ikuti juga InstagramFacebook, dan Twitter dari Skor Indonesia.

Berita Bayern Munchen Lainnya:

Striker Cantik dari PSG Ini dan Alphonso Davies Bisa Ukir Sejarah di Liga Champions

Wonderkid: Alphonso Davies, ''Sprinter'' Bayern Munchen dari Kanada

Tag

Video

Berita Terkait

Bola Internasional

Jumat, 10 Juli 2020

Alphonso Davies Diyakini Bakal Jadi Legenda Bayern Munchen

Alphonso Davies bersinar sejak membela Bayern Munchen musim 2018-2019.

Liga Champions

Sabtu, 15 Agustus 2020

Cetak Gol dari Assist Alphonso Davies, Joshua Kimmich Mengaku Malu

Pemain Bayern Munchen, Joshua Kimmich, mengaku malu usai mengonversi assist Alphonso Davies saat lawan Barcelona.

Liga Spanyol

Minggu, 16 Agustus 2020

Ditawari Alphonso Davies, Bos Barcelona Beri Jawaban Aneh

Presiden Barcelona, Josep Maria Bartomeu, punya jawaban aneh ketika ditawari untuk merekrut wonderkid Bayern Munchen, Alphonso Davies.

Terbaru

Liga Inggris

Minggu, 17 Oktober 2021

Liga Inggris 2021-2022: Jadwal, Hasil, Klasemen, dan Profil Klub Lengkap

Kick-off Liga Inggris telah dimulai Sabtu (14/8/2021) WIB. Simak jadwal, hasil, klasemen, dan profil timnya di sini!

Liga Inggris

Minggu, 17 Oktober 2021

Hasil Brentford vs Chelsea: Gol Tunggal Ben Chilwell Jauhkan The Blues dari Kejaran Liverpool

Chelsea sukses mencuri tiga poin dari Brentford pada lanjutan Liga Inggris 2021-2022 pekan kedelapan.

Liga Italia

Minggu, 17 Oktober 2021

Hasil Lazio vs Inter Milan: Biancocelesti Beri Kekalahan Pertama untuk Sang Mantan Pelatih

Lazio berhasil membungkam Inter Milan pada lanjutan Liga Italia 2021-2022 pekean kedelapan.

Liga Italia

Minggu, 17 Oktober 2021

Link Live Streaming AC Milan vs Hellas Verona di Liga Italia

Berikut link live streaming AC Milan vs Hellas Verona di pekan ke-8 Liga Italia 2021-2022.

Liga Inggris

Sabtu, 16 Oktober 2021

Hasil Manchester City vs Burnley: Dua Gelandang Kreatif Bawa The Citizens Menang 2-0

Manchester City berhasil menjaga persaingan dengan Liverpool lewat kemenangan 2-0 atas Burnley, Sabtu (16/10/2021).

Liga Inggris

Sabtu, 16 Oktober 2021

Hasil Leicester City vs Manchester United: Tim Setan Merah Babak Belur, Kalah 2-4

Kekalahan ini membuat Manchester United tidak pernah menang dalam tiga laga terakhir di Liga Inggris, dua di antaranya kalah.

Liga Italia

Sabtu, 16 Oktober 2021

Link Live Streaming Lazio vs Inter Milan di Liga Italia

Berikut link live streaming laga Lazio vs Inter Milan pada lanjutan Liga Italia.

Liga Spanyol

Sabtu, 16 Oktober 2021

7 Pesepak Bola Muda Paling Mahal di Liga Spanyol, Barcelona Mendominasi

Inilah tujuh pemain muda usia 18 tahunan dengan banderol harga termahal di Spanyol musim ini.

Liga Inggris

Sabtu, 16 Oktober 2021

Arsenal Siapkan Rp2 Triliun untuk Beli Raheem Sterling dan Noa Lang

Arsenal mulai berani untuk melakukan pembelian pada bursa transfer Januari.

Liga Italia

Sabtu, 16 Oktober 2021

Edin Dzeko Bisa Melampaui Rekor Ronaldo Nazario di Inter Milan

Edin Dzeko bisa mengukir rekor 7 gol dari 8 laga awal sebagai pemain Inter Milan, saat lawan Lazio, malam ini.
X