Khalida Popal, Berjuang demi Sepak Bola Wanita di Tengah Ancaman Mati

8 Maret 2021, 13:00 WIB
Editor: Pradipta Indra Kumara
Mantan kapten tim nasional sepak bola putri Afghanistan, Khalida Popal. /twitter.com/WomenforWomen

SKOR.id - Pada Hari Perempuan Internasional 2021 kali ini Skor.id mencoba membahas perjuangan Khalida Popal demi kesetaraan untuk tim nasional sepak bola wanita di Afghanistan.

Sejak terbebas dari rezim Taliban pada tahun 2004, nyatanya masih banyak hal yang harus diperjuangkan di Afghanistan.

Termasuk mengenai kesetaraan untuk kaum perempuan, yang pada kasus Khalida Popal kali ini adalah di bidang olahraga, khususnya sepak bola.

Dilansir dari Huffingtonpost Khalida Popal mengenal sepak bola sejak ia masih kecil melalui sang ibu.

Namun, sepak bola yang mulanya hanya untuk kesenangan, justru mengubah hidup Khalida Popal.

Kesenangannya itu mulai mendapatkan penolakan di lingkungan sekitarnya, tak hanya dari para laki-laki, tetapi juga sesama wanita.

"Guru saya mengeluarkan saya dari kelas mereka karena saya bermain sepak bola. Tetapi jika pria bisa bermain sepak bola, mengapa wanita tidak?" ujar Khalida Popal.

Di Afghanistan, sepak bola dianggap sebagai olahraga kaum adam, jika kaum hawa memainkannya, mereka akan dianggap seperti pelacur.

Wanita kelahiran Kabul, Afghanistan, itu memang memiliki alasan khusus mengapa tetap bermain sepak bola meski mendapat berbagai penolakan.

"Saya memilih sepak bola sebagai alat untuk membela hak-hak saya, dan untuk membantu wanita lain membela hak-hak mereka," ujar Khalida.

"Di negara saya, wanita tidak dihormati. Mereka bahkan tidak dipandang sebagai manusia. Ini penting untuk terlebih dahulu bekerja dengan perempuan untuk membangun kapasitas dan kepercayaan diri mereka," ujar Khalida menambahkan.

Mantan kapten tim sepak bola putri Afghanistan.
Mantan kapten tim sepak bola putri Afghanistan. twitter.com/FIFAWWC

Pada tahun 2004 ibu Khalida membentuk sebuah klub sepak bola wanita di sekolahnya dan mengkampanyekan pembentukan sekolah sepak bola lainnya.

Setahun kemudian klub-klub yang sudah terbentuk meminta Federasi Sepak Bola Afghanistan (AFF) untuk membentuk komite sepak bola wanita.

Keramuddin Karim yang merupakan presiden AFF, mencoba mengakomodasi permintaan tersebut, dengan mengadakan turnamen sepak bola wanita pada tahun 2005.

AFF kemudian memilih pemain terbaik sebagai pondasi pembentukan tim nasional wanita.

Hanya ada empat pemain yang terpilih, termasuk Khalida. Mereka kemudian dilatih oleh Klaus Stark, pelatih asal Jerman yang juga menangani tim nasional sepak bola putra Afghanistan.

Meski begitu, perjuangan belum berakhir, berbagai cacian dan tindakan ancaman masih diterima Khalida dan teman seperjuangannya.

"Kami adalah empat gadis di tim. Orang-orang melemparkan batu dan sampah ke arah kami. Saya menerima banyak ancaman pembunuhan," ujar Khalida.

Penolakan-penolakan tak membuat Khalida terpengaruh, ia terus menekuni olahraga si kulit bundar hingga pada tahun 2007 menjadi kapten tim pertama tim nasional sepak bola wanita Afghanistan.

Dilansir dari Hummel, tim sepak bola wanita Afghanistan ini bahkan sempat bermain di sebuah turnamen kecil di Pakistan pada tahun 2008.

Ancaman terus datang, sisa-sisa rezim Taliban, dan orang-orang yang tak suka sepak terjang Khalida, makin sering mengganggu ketenangan keluarganya dan memberikan ancaman pembunuhan.

Khalida akhirnya memilih meninggalkan Afghanistan, setelah mendapat suaka dari Denmark.

Meski meninggalkan negaranya, hal tersebut bukan akhir perjuangannya. Ia terus memikirkan nasib tim sepak bola wanita di Afghanistan.

Ia tak jarang menjadi pembicara mengenai perkembangan olahraga sepak bola wanita di Afghanistan.

Pada momen Hari Perempuan Internasional 2017 Khalida Popal menerima penghargaan berkat perjuangan untuk kaumnya.

Meski belum sepenuhnya bebas, sepak bola wanita di Afghanistan telah mengalami perkembangan.

Sekarang wanita pun dilegalkan menonton sepak bola, bahkan menyuarakan dukungan di media sosial, setelah sempat dilarang.

Tim nasional sepak bola wanita Afghanistan juga tak jarang mengadakan pertandingan internasional, meski harus digelar di luar negara mereka.

Alasanya tidak ada jaminan keamanan jika mereka menggelar sepak bola di Afghanistan.

Perjuangan Khalida Popal pun belum behenti, bahkan melalui PBB ia juga pernah berkesempatan menyarakan permasalahan kesetaraan gender.

Ikuti juga InstagramFacebook, dan Twitter dari Skor Indonesia 

Berita Olah Raga Lainnya: 

Timnas Putri Singapura Resmi Dilatih Mantan Kiper Nasional Mereka

Hari Perempuan Sedunia: Kesetaraan di Olahraga, dari Billie Jean King hingga Naomi Osaka

Tag

Video

Komentar

Berita Terkait

Bola Internasional

Senin, 8 Maret 2021

Kembalinya Shinji Ono ke J1 League, Si Jenius yang Belum Pikirkan Pensiun

Musim ini J1 League kembali diramaikan salah satu legenda sepak bola Jepang, Shinji Ono.

Liga 1

Senin, 8 Maret 2021

PSM Makassar Gelar Latihan Perdana, Eks-arsitek Sriwijaya FC Jadi Asisten Pelatih

PSM Makassar gelar latihan perdana sebagai persiapan ke Piala Menpora 2021 dan tampak eks-arsitek Sriwijaya FC Budiardjo Thalib

Nusantara

Senin, 8 Maret 2021

Striker Brasil Mandul, Todd Ferre Gagal Jadi Pembeda di Thailand

Todd Ferre dimainkan dari cadangan menjadi suksesor striker asal Brasil pada laga terbaru kasta kedua Liga Thailand.

Terbaru

Bola Internasional

Senin, 19 April 2021

Respons Sho Inagaki seusai Nagoya Grampus Catatkan Kekalahan Perdana

Pekan ke-10 perhelatan Meiji Yasuda J1 League membawa mimpi buruk tersendiri bagi Nagoya Grampus.

Liga Inggris

Senin, 19 April 2021

Prediksi Leeds United vs Liverpool: Peluang The Reds Naik ke Empat Besar

Liverpool bakal menjalani laga lawatan rumit ke Leeds United dalam ambisinya merengkuh target pamungkas musim ini.

Bola Internasional

Senin, 19 April 2021

Klub Pendiri European Super League Bakal Terima "Imbalan" Rp70,5 Triliun

Dua belas klub besar Eropa "pendiri" European Super League bakal menerima imbalan 3,5 miliar euro (Rp70,5 triliun).

Bola Internasional

Senin, 19 April 2021

Tekuk Vitesse Arnhem, Ajax Amsterdam Juarai Piala Belanda Kali ke-20

Ajax Amsterdam kembali menjadi juara di Piala Belanda untuk kali ke-20 musim ini.

Liga Inggris

Senin, 19 April 2021

Suporter Arsenal dan Chelsea Kecam Keikutsertaan Klub di European Super League

Suporter Chelsea dan Arsenal satu suara untuk menentang penyelenggaraan European Super League.

Bola Internasional

Senin, 19 April 2021

Inter Milan dan Atletico Hadapi Konsekuensi Berat jika Nekat Gabung European Super League

Ada dua klub besar Eropa yang diyakini akan menghadapi konsekuensi berat jika nekat gabung European Super League.

Bola Internasional

Senin, 19 April 2021

Mantan Winger Madura United Jalani Debut di J1 League Bersama Vegalta Sendai

Mantan pemain Madura United, Emmanuel Oti, akhirnya jalani debut di Meiji Yasuda J1 League.

Liga Spanyol

Senin, 19 April 2021

Real Madrid Ditahan Imbang Getafe, Zinedine Zidane Santai

Real Madrid mencatatkan hasil yang tak begitu baik pada pekan ke-31 Liga Spanyol, Senin (19/4/2021) dini hari WIB.

Liga Inggris

Senin, 19 April 2021

Awas Manchester City, Manchester United Menang Lagi

Manchester City perlu waspada dengan hasil positif yang dicatatkan Manchester United akhir-akhir ini.

Bola Internasional

Senin, 19 April 2021

Petinggi Real Madrid dan Juventus Duduki Jabatan Penting di European Super League

Petinggi Real Madrid, Florentino Perez, dan ketua Juventus, Andrea Agnelli, mendukuki jabatan penting di European Super League.

Terpopuler

Keyword Populer

Sepak Pojok

X