5 Klub yang Membuktikan Uang Bukanlah Syarat Mutlak Meraih Sukses

22 April 2021, 22:55 WIB
Penulis: Irfan Sudrajat
Editor: Irfan Sudrajat
Pemain, pelatih, dan staf Atalanta, merayakan sukss mereka mendapatkan tiket Liga Champions. /(Twitter)

SKOR.id - "Saya tidak pernah melihat sekarung uang mencetak gol," kata Johan Cruyff. Kalimat tersebut menjadi sangat dikenal, dari sosok legenda sepak bola dunia.

Johan Cruyff memang sudah tiada, namun warisannya tidak akan terbawa pergi.

Apa yang dikatakan Johan Cruyff pun sudah berulang kali terbukti. Dalam sepak bola, memang ada klub dengan yang tergolong elite namun faktanya itu hanya status semata.

Klub yang secara materi pemain jauh di bawah lawannya, bahkan dari sisi finansial sangat jauh berbeda, tapi mampu meraih kemenangan.

Karena David lawan Goliath akan selalu menjadi sisi yang menarik dalam sepak bola. Aspek kejutan yang membuat sepak bola menjadi sisi yang sangat menarik.

Klub yang memberikan contoh bahwa sukses tidak hanya untuk mereka klub yang tajir. Isu tentang European Super League, mengingatkan kembali tentang momen para klub biasa saja yang justru mampu mencatatkan cerita besar.

Berikut adalah sejumlah momen ketika klub dengan level biasa saja baik dari sisi materi pemain maupun finansial, serta status yang sebut saja bukan "the Big", justru mampu meraih prestasi.

Prestasi di sini adalah kemenangan dalam sebuah pertandingan, langkah mereka ke fase tertentu dalam sebuah turnamen, hingga keberhasila meraih gelar.

Leicester City 2015-2016

Tidak afdol rasanya tanpa menempatkan Leicester City dalam tulisan ini. The Foxes atau si Rubah, adalah salah satu contoh terbaik tentang talenta, hasrat, semangat, dan keyakinan dalam mematahkan tim bertabur bintang dan berstatus kaya raya.

Momen itu terjadi pada 2015-2016 dan skorer tentu sudah tahu kisahnya tentang tim yang ketika itu di bawah asuhan pelatih bernama Claudio Ranieri.

Adalah Leicester City yang berhasil mematahkan dominasi para klub besar di Liga Inggris. Adalah Leicester City yang akhirnya mampu menunjukkan bahwa dengan semua elemen di luar dari aspek uang, mereka mampu meraih kemenangan dan tampil sebagai juara.

Momen ketika pelatih Claudio Ranieri merayakan gelar Liga Inggris bersama pemainnya pada 2015-2016.
Momen ketika pelatih Claudio Ranieri merayakan gelar Liga Inggris bersama pemainnya pada 2015-2016. (Twitter)

Pada musim mereka juara, market value Leicester City ketika itu (2015-2016) hanya mencapai 161,1 juta euro menurut transfermarkt.

Meski demikian, pada musim itu, mereka mampu mengalahkan sejumlah tim kaya raya dengan market value yang nilainya fantastis.

Leicester City hampir mengalahkan semua tim besar alias The Big Six pada musim itu. Contohnya, mereka mengalahkan Manchester City dalam laga tandang, 3-1, pada 6 Februari 2016.

Ketika itu, market value Manchester City mencapai 499 juta euro. Artinya, hampir empat kali lipat nilainya dibandingkan dengan nilai skuad Leicester City saat itu.

Inilah contoh terbaik ketika uang bukanlah segala-galanya untuk meraih sukses.

Atalanta 2018-2019

La Dea, tim bergamascha, klub yang memang dikenal dengan produk-produk pemain muda. Mereka menjual, mengambil keuntungan dari penjualan tersebut.

Barisan mantan pemain Atalanta pun menjadi bintang tersebear di sejumlah klub Italia. Filippo Inzaghi salah satu contoh jebolan Atalanta yang kemudian namanya berkibar di sejumah klub besar seperti Juventus dan AC Milan.

Namun, ada momen ketika tim ini ingin "mencicipi" kemenangan. Ada fase saat mereka ingin memperlihatkan bahwa filosofi sepak bola yang benar adalah membangun kekuatan dengan skuad yang ada.

Atalanta memperlihatkan bahwa uang bukan segalanya untuk meraih sukses pada 2018-2019. Ketika itu, mereka berhasil mengakhiri musim di Liga Italia dengan berada di posisi ketiga klasemen akhir.

Mereka memang tidak juara, tapi dalam prosesnya pada musim itu Atalanta mengalahkan Inter Milan 4-1, lalu mengalahkan Lazio. Di Piala Italia musim itu, Atalanta pun berhasil ke final.

Sukses mereka ke final di antaranya setelah memukul Juventus 3-0 pada fase perempat final.

Sukses Atalanta ketika itu bukanlah kebetulan karena pada musim berikutnya mereka kembali berada di posisi ketiga klasemen akhir Liga Italia.

Yang mengejutkan, mereka lolos dari fase grup Liga Champions, hingga ke perempat final sebelum dikalahkan Paris Saint-Germain.

James Milner (kanan) membayangi Marten de Roon dalam laga Liverpool vs Atalanta, Rabu 25 November 2020
James Milner (kanan) membayangi Marten de Roon dalam laga Liverpool vs Atalanta, Rabu 25 November 2020 (Liverpool/Twitter)

Dan, musim ini, mereka kembali ke papan atas dengan berada di empat besar. Bahkan, Atalanta berhasil ke final Piala Italia yang akan menghadapi Juventus, 19 Mei 2021 nanti.

Di ajang Liga Champions 2020-2021, mereka lolos dari fase grup dengan mengalahkan Liverpool di antaranya. Langkah mereka terhenti di 16 besar setelah kalah dari Real Madrid.

La Dea memang tidak juara Liga Champions, tapi proses perjalanan mereka sepanjang tiga musim terakhir sangat mengagumkan.

"Sepak bola membutuhkan realitas seperti Atalanta: sebuah mimpi yang bisa dimiliki oleh siapa saja," kata Presiden UEFA, Aleksander Caferin, saat memberikan respons ketika munculnya pengumuman European Super League, awal pekan ini.

Hellas Verona 1984-1985

Masih dari Italia, kisah tentang klub yang tidak diunggulkan justru mampu menjadi yang terbaik. Ya, dalam sejarah sepak bola Italia, ada tim yang mampu memenangkan gelar.

Cerita sukses tentang klub bernama Hellas Verona, ketika tampil sebagai juara (scudetto) pada 1984-1985. Tim yang mampu mengalahkan sejumlah kandidat juara.

Hellas Verona mematahkan deretan klub yang memiliki bintang dengan nama besar seperti Diego Maradona, Michel Platini, Zico, Socrates, Karl Heinz Rummenigge.

Pada pekan pertama musim itu, mereka mengalahkan Napoli 3-1. Lalu memukul Juventus 2-0 di pekan kelima.

Tim asuhan Osvaldo Bagnoli kemudian tampil di ajang Liga (Piala) Champions dan bertemu Juventus. Mereka imbang 0-0 pada pertemuan pertama, namun kemudian kalah 0-2 di laga kedua.

Inilah tim Hellas Verona yang berhasil meraih gelar Liga Italia pada 1985-1985.
Inilah tim Hellas Verona yang berhasil meraih gelar Liga Italia pada 1985-1985. (Twitter Hellas Verona France)

Leeds United 2000-2001

Leeds United pernah menjadi buah bibir pada 2000/2001. Leeds ketika itu dimotori oleh sejumlah bintang yang baru menanjak namanya di sepak bola Inggris seperti Rio Ferdinand, Olivier Dacourt, Harry Kewell, Alan Smith, atau Mark Viduka.

Di bawah asuhan David O'Leary, Leeds menjungkalkan prediksi. The Whites berhasil mengakhiri musim di posisi tiga klasemen Liga Primer Inggris sehingga tampil di Liga Champions.

Sepanjang musim 2000-2001, yang menarik dari mereka adalah pertarungan di ajang Eropa yaitu Liga (Piala) Champions.

Pasalnya, Leeds berhasil hingga ke fase semifinal Liga Champions sebelum mereka dikalahkan Valencia.

Bahkan, mereka memulai petualangan di ajang tersebut dari fase kualifikasi dengan mengalahkan klub besar seperti TSV 1860 Muenchen.

Di fase grup, mereka mengalahkan AC Milan, klub yang tentu saja merupakan klub raksasa. Mereka juga memaksa Barcelona bermain imbang.

Sevilla (2005-Kini)

Kalau saja European Super League jadi digulirkan, harusnya Sevilla juga "diundang" sebagai pendiri.

Klub asal Andalusia, Spanyol, ini telah memenangkan enam gelar Liga Europa (Piala UEFA) sejak 2005 hingga kini.

Mereka adalah tim asal Spanyol paling sukses di ajang Eropa setelah Real Madrid dan Barcelona.

Sevilla adalah spesialis Liga Europa. Tim ini menjadi contoh terbaik lainnya bahwa di lapangan, pada akhirnya, sepak bola adalah pertandingan 11 lawan 11.

Sevilla dinobatkan menjadi juara Liga Europa usai mengalahkan Inter Milan di Stadion RheinEnergie, Sabtu (22/8/2020) dini hari WIB.
Sevilla dinobatkan menjadi juara Liga Europa usai mengalahkan Inter Milan di Stadion RheinEnergie, Sabtu (22/8/2020) dini hari WIB. Twitter/Sevilla FC

Gelar Liga Europa terakhir yang diraih Sevilla terjadi pada musim lalu dan mereka mengalahkan klub besar Liga Italia, Inter Milan, 3-2.

Gelar Liga Europa yang mereka raih pada 2015-2016, bahkan mereka raih dengan mengalahkan Liverpool, 3-1, pada laga final.

Lalu pada 25 Agustus 2006, Sevilla menorehkan momentum yang indah ketika berhasil mengalahkan Barcelona, 3-0 pada Piala Super Eropa.

Ikuti juga InstagramFacebook, dan Twitter dari Skor Indonesia.

Berita European Super League lainnya:

Buat Surat Terbuka, Pemilik Manchester United Mengaku Salah Soal European Super League

European Super League Ditangguhkan, Florentino Perez Cari Solusi untuk Merealisasikan

  • Sumber: Sky Italia
  • Tag

    Video

    Komentar

    Berita Terkait

    Bola Internasional

    Kamis, 22 April 2021

    Maju Mundur European Super League: Dampak Besar Gagalnya Kompetisi Saingan Liga Champions

    Baru-baru ini muncul gagasan kompetisi European Super League (ESL) sebagai saingan dari Liga Champions yang dipromotori oleh Presiden Real Madrid, Florentino Perez.

    Bola Internasional

    Kamis, 22 April 2021

    Joshua Kimmich Tanggapi Rumor David Alaba ke Real Madrid

    Joshua Kimmich menanggapi rumor David Alaba yang kabarnya bakal ke Real Madrid.

    Liga Spanyol

    Kamis, 22 April 2021

    Gerard Pique Siap Dukung Keputusan Lionel Messi di Barcelona

    Gerard Pique siap mendukung keputusan Lionel Messi terkait kontraknya di Barcelona.

    Liga Spanyol

    Kamis, 22 April 2021

    Florentino Perez: Tanpa European Super League, Tidak Akan Ada Haaland dan Mbappe

    Presiden Real Madrid menilai transfer Kylian Mbappe dan Erling Haaland mustahil terwujud tanpa adanya European Super League.

    Terbaru

    Bola Internasional

    Senin, 17 Mei 2021

    VIDEO: Masih Kolaborasi dengan Jordan, PSG Rilis Jersi Kandang untuk Musim 2021-2022

    Paris Saint-Germain (PSG) telah merilis jersi kandang mereka untuk musim 2021-2022.

    Dunia

    Senin, 17 Mei 2021

    Yasuyuki Konno, Andalan Timnas Jepang yang ''Penting'' Bagi FC Tokyo dan Gamba Osaka di J.League

    Yasuyuki Konno bisa dikatakan identik dengan FC Tokyo, tetapi juga "dekat" Gamba Osaka di J.League dan dia andalan timnas Jepang

    Liga Spanyol

    Senin, 17 Mei 2021

    WONDERKID: Miguel Gutierrez, Bek Kiri Masa Depan Real Madrid

    Real Madrid memiliki bintang muda yang siap beraksi di posisi bek kiri.

    Bola Internasional

    Senin, 17 Mei 2021

    Daftar 26 Pemain Timnas Belgia untuk Piala Eropa 2020, Eks Pemain Man United Tak Masuk

    Timnas Belgia merilis daftar 26 pemain untuk Piala Eropa 2020.

    Dunia

    Senin, 17 Mei 2021

    Pelatih Timnas Malaysia Tak Mau Pikirkan Efek dari Mundurnya Korea Utara

    Pelatih timnas Malaysia, Tan Cheng Hoe, tak mau terlalu memikirkan dampak mundurnya Korea Utara dari Kualifikasi Piala Dunia 2022.

    Bola Internasional

    Senin, 17 Mei 2021

    10 Kiper Pencetak Gol Terbanyak di Dunia: Rogerio Ceni Paling Produktif

    Berikut 10 penjaga gawang dengan kemampuan mencetak gol yang tinggi.

    Liga Spanyol

    Senin, 17 Mei 2021

    Massimiliano Allegri Kian Dekat Jadi Pelatih Real Madrid

    Pelatih asal Italia, Massimiliano Allegri, dilaporkan makin dekat dengan Real Madrid.

    Dunia

    Senin, 17 Mei 2021

    VIDEO: Momen Berkesan David Beckham di Piala Dunia

    David Beckham meninggalkan kenangan berkesan selama tiga kali tampil di Piala Dunia berbeda.

    Liga Spanyol

    Senin, 17 Mei 2021

    Termasuk Eden Hazard, Real Madrid Bakal Jual 10 Pemain

    Cuci gudang besar-besaran bakal dilakukan Real Madrid pada bursa transfer musim panas mendatang.

    Bola Internasional

    Senin, 17 Mei 2021

    Rapor Pemain ASEAN di J.League Pekan Ke-14: Theerathon Bikin Kesalahan, Chanathip Masih Absen

    Berikut adalah rapor pemain Asia Tenggara pada Meiji Yasuda J1 League pekan ke-14.
    X